JANGAN GANGGU SAYA

Bacaan: Wahyu 3:14-22
NATS: Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk (Wahyu 3:20)

Ketika masih muda, C.S. Lewis pernah meninggalkan imannya kepada Allah dan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap agama. Ia berkata bahwa semua agama adalah mitos yang diciptakan oleh manusia. Bertahun-tahun kemudian, setelah mengakui Yesus sebagai Putra Allah dan Juru Selamatnya, Lewis menulis di dalam bukunya yang berjudul Surprised By Joy [Dikejutkan oleh Sukacita]:

"Dalam perbendaharaan kata saya, tidak ada kata yang lebih saya benci selain kata campur tangan. Namun kekristenan terletak pada suatu pusat yang bagi saya saat itu tampaknya sebagai Pencampur Tangan tertinggi. Tidak ada tempat, bahkan di kedalaman jiwa seseorang, yang dapat dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan dijaga dengan tulisan "Dilarang Masuk". Padahal hal itulah yang saya inginkan; yaitu sebuah tempat, seberapa pun kecilnya, di mana saya dapat berkata kepada makhluk-makhluk lain, ‘Ini urusan saya dan hanya milik saya.’"

Setiap orang berhak berkata kepada Allah, “Tinggalkan saya sendiri. Jangan ganggu saya.” Namun, Tuhan pun berhak untuk mengejar kita dengan belas kasih-Nya yang pantang menyerah. Kepada gereja yang puas diri di Laodikia, Kristus yang telah bangkit berkata, “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3:20).

Karena anugerah-Nya, Tuhan terus mengetuk, siap untuk mengisi hidup kita dengan kasih-Nya —DCM

KASIH ALLAH ITU GIGIH
NAMUN TIDAK PERNAH MEMAKSA